Test

Posted: Oktober 12, 2016 by rabkalasirhaf in Anak Simkes Angkatan 2008

test

Sistem informasi merupakan faktor penting dalam peningkatan pelayanan sekaligus penghematan bagi rumah sakit, dan saat ini telah menjadi salah satu standar mutu pelayanan rumah sakit. Seperti dalam artikel memilih SIM Rumah Sakit yang terdahulu, bertujuan untuk membantu Rumah Sakit atau yang baru membutuhkan sebuah SIM agar dapat nantinya bisa dipergunakan dan bermanfaat bagi pelayanan kesehatan dan meningkatkan kualitas sistem informasi.

Sebelum menentukan SIM RS, kita harus mengetahui identitas dan pengalaman vendor yang akan menjadikan mitra kita dalam membangun sebuah SIM Rumah Sakit. Untuk itu pengalaman simulasi diskusi antara pihak manajemen Rumah Sakit dengan vendor, mungkin bisa dipergunakan sebagai acuan dalam memilih sebuah SIM Rumah Sakit.

Dalam diskusi ada dua kelompok, yaitu :

  • Pertama sebagai vendor dengan tugas menyiapkan materi presentasi tawaran aplikasi yang akan diterapkan di rumah sakit;
  • Kedua sebagai pihak rumah sakit dengan tugas menentukan apakah menerima atau menolak vendor yang menawarkan software aplikasi SIM RS tersebut

Diskusi ini dilaksanakan di sebuah rumah sakit dengan kriteria sebagai berikut:

  • milik pemerintah provinsi
  • Type B non pendidikan
  • Jumlah tempat tidur 400
  • Dengan 4 pelayanan dasar, 3 penunjang, 4 spesialistik
  • Ruang pelayanan :  Rawat inap, Medical Check Up, Rawat jalan, Radiologi, patologi klinik, rehabilitasi medis, Gizi,  OK, Kanker, Homecare
  • Ssebagai rumah sakit rujukan laboratorium
  • Keuangan dari dinas kesehatan provinsi dengan anggaran sekitar 75-80 milyar rupiahper tahun
  • Kondisi eksisting rumah sakit: System belum terintegrasi, kasir + apotik, rekam medis à pengolahan data statistic dengan MS Excel  khusunyapembuatan grafik Barber Johnson, pelaporan /RL menggunakan excel, server pengadaan 3 thn lalu), belum memiliki LAN, tenaga IT yang dimiliki ada satu orang di bagian rekam medis dengan latar belakang pendidikan informatika

Situasi diskusi selengkapnya seperti di bawah ini :

Diskusi dihadiri oleh :

1.  Pihak rumah sakit : Direktur, Wadir Keuangan, Wadir Pelayanan Medis, Tim  IT rumah sakit.

2. Pihak vendor : Direktur, Bagian Marketing, Koordinator tim teknis /Programer, Koordinator Lapangan

Materi presentasi yang disampaikan oleh vendor adalah :

1. Profil vendor :

  • Nama lengkap vendor : CV. Rekayasa Bersama
  • Struktur organisasi dan profil personal
  • Berpengalaman dalam bidang SIM rumah sakit selama 7 tahun
  • Organisasi yang pernah didampingi dalam penerapan SIM : 7 rumah sakit tipe A, 8 rumah sakit tipe B, 9 puskesmas dan 2 klinik
  • Didukung oleh tim konsultan dari SIMKES UGM

2.  Sekilas model SIM yang ditawarkan

3. Strategi kerja :

  • Need assessment
  • Pemasangan jaringan : hardware, software
  • Transfer of knowledge : pelatihan SDM (konsep dan teknis)
  • Pendampingan (implementasi aplikasi)
  • Supervisi (identifikasi dan penyelesaian masalah)
  • Evaluasi (tindak lanjut)

Tanya-jawab yang terjadi adalah sebagai berikut:

RS : Siapa pemilik CV ini? Bagaimana ketersediaan dana utk operasional CV ini?

Vendor : CV didirikan atas prakarsa bersama beberapa relasi, peminat masalah SIM RS, Direktur CV adalah pemilik rumah sakit yang juga menerapkan SIM RS, CV bekerjasama dengan para ahli dan konsultan yang berkualified, Keuangan terjamin karena sudah bermitra selama 7 tahun dengan salah satu Bank terpercaya, memiliki re-asuransi dan laporan pajak yang tertib, Nominal pekerjaan yang pernah CV ini lakukan terbesar adalah 900jt rupiah

RS : Apa yang perlu disiapkan untuk menerapkan SIM RS ini?

Vendor : Yang pertama dan utama perlu disiapkan oleh organisasi adalah komitmen seluruh SDM untuk melaksanakan sistem baru dengan konsisten; Kedua, struktur organisasi yang mendukung jalannya koordinasi untuk SIM RS yang diterapkan; selain itu juga perlu ada regulasi internal yang memadai dan sesuai untuk penerapan SIM RS. Untuk struktur organisasi, perlu dibentuk satu unit yang khusus mengurusi persoalan-persoalan yang terjadi selama penerapan SIM RS ini, terutama masalah teknis. Sehingga tidak terjadi masing-masing user dari ruangan yang berbeda menghubungi langsung kepada vendor untuk bertanya tentang permasalahan yang muncul. Hal ini perlu ada koordinasi, oleh karena itu perlu ada unit atau tim khusus sebagai wadah dalam organisasi untuk penyelesaian masalah dalam penerapan SIM RS ini.

RS : Bagaimana dengan keterbatasan SDM yang memiliki kemampuan IT? RS hanya memiliki 1 orang operator dan 1 orang yang berlatar pendidikan informatika, dan dia bekerja di unit pengolahan data di bagian rekam medis.

Vendor : Memang SDM perlu disiapkan dengan sungguh-sungguh, mengingat kita tidak hanya memberi alat, tetapi juga mengubah perilaku. Sebagaimana sudah disampaikan dalam tayangan tadi, bahwa salah satu strategi kerja CV ini adalah “transfer of knowledge”, yaitu memberikan pelatihan sampai bisa menjalankan sistem ini. Sementara itu dalam strategi kerja “pendampingan”, segala kegiatan dilakukan secara bersama, yaitu selain dari pihak vendor, juga dari pihak RS. Sehingga diharapkan, apabila sudah tidak bermitra lagi, tidak lepas begitu saja, tetapi tetap menjalin hubungan baik dalam arti vendor masih melayani pihak RS sepanjang sifatnya konsultatif. Dan hal penting adalah, ini harapan kami, pada saatnya nanti RS bisa mandiri dalam mengembangkan SIM RS nya. Oleh karena itu, penting dipikirkan pemberdayaan potensi SDM dengan serius.

RS : Mohon dijelaskan fitur-fitur produk CV ini, serta demo aplikasi-nya

Vendor : Fitur yang dibuat disesuaikan dengan keadaan RS ini, dan apabila kiranya masih ada yang belum pas, maka tim teknis kami akan mengubahnya agar sesuai dan cocok dengan pekerjaan di sini.

RS : Apa hambatan terbesar saat menerapkan produk CV ini?

Vendor : Sebagaimana pengalaman kami, hambatan terbesar adalah aspek SDM. Mengingat petugas-petugas pelayanan sudah terbiasa bekerja secara manual, maka lebih sulit bagi mereka melakukan pekerjaan dengan dukungan peralatan seperti komputer. Kami menyadari memang sulit mengubah perilaku, oleh karena itu kami memiliki strategi khusus untuk ini, yaitu memberdayakan SDM yang ada dengan knowledge management. Ini juga harus ada komitmen dari Manajemen setempat dan dukungan yang kuat, seperti regulasi yang mengatur jenjang promosi karyawan yang mau meningkatkan pengetahuannya, itu salah satunya. Mungkin di sini bisa diterapkan hal seperti itu, atau ada hal lain yang bisa kita bicarakan lebih lanjut.

RS : Dari pengalaman yang telah disebutkan, pasti ada kegagalan dalam penerapan sebuah SIM walaupun kecil. Mohon dijelaskan?

Vendor : Kegagalan pasti ada juga, tetapi menurut kami itu hal sudah biasa karena dalam penerapan sebuah SIM untuk langsung optimal jelas tidak mungkin. Kegagalan yang kami alami yang terjadi bukan dikarenakan produk kami yang tidak bisa dipakai, tetapi setelah selesai kontrak pihak RS belum juga menjalankan SIM dengan sungguh-sungguh.

RS : Kalau nanti kami jadi menjadi memakai produk CV ini, apa ada bonusnya…? (Peserta diskusi semua langsung bertepuk tangan, sehingga suasana yang tadinya serius jadi lebih santai)

Vendor : Ini yang menjadi kendala juga dalam bermitra dengan instansi, sesuatu yang ditanyakan tersebut sulit untuk dijawab dalam forum ini

RS : Sebenarnya RS juga sudah mengembangkan SIM RS sendiri. Bagaimana penggabungan kedua sistem ini bisa dilakukan?

Vendor : Bagi kami, tidak menjadi masalah untuk menggabungkan sistem lama dengan sistem yang baru. Nanti tim teknis kami akan mengecek, bagaimana sistem yang sudah ada tersebut. Prinsip kami, semua sistem yang dibuat adalah untuk memudahkan pengguna. Dan konsep kami, source code akan kami berikan, agar apabila ada pengembangan lebih lanjut, ke depan nanti, maka RS bisa menggunakannya untuk menyesuaikan dengan perkembangan yang baru.

RS : Dengan keterbatasan SDM di sini, bagaimana cara menerapkan SIM di sini?

Vendor : SDM yang terbatas pasti dialami oleh instansi manapun, SDM yang telah ditunjuk oleh Rumah Sakit akan kami libatkan dari awal sampai dengan penerapan aplikasi, sehingga diharapkan setelah selesai kontrak sudah ada SDM yang yang bisa untuk mengatasi permasalahan yang ada.

RS : Apa kelebihan CV ini, sehingga kami punya alasan untuk memilih CV ini?

Vendor : Selain unggulan produk yang sudah disampaikan tadi, kami punya komitmen sendiri akan pentingnya dukungan terhadap perkembangan SIM RS di Indonesia. Dan azas yang kami gunakan adalah TRUST atau kepercayaan, bahwa modal untuk bisa berbuat baik adalah percaya. Dan tentu saja menjaga kepercayaan itu. Boleh jadi keunggulan orang lain lebih kepada materi, harga murah. Tetapi bagi kami kepercayaan tidak bisa disetarakan dengan rupiah, dan itu yang kami junjung tinggi sebagai landasan kerja kami. Oleh karena itu, kami mohon juga pihak RS percaya kepada kami.

Diskusi diakhiri dengan tepuk tangan yang dan saling jabat tangan, serta komentar dari dosen pengampu ” Sip anda-anda sudah mampu menjadi vendor dan pejabat Rumah Sakit”.

Terima kasih sanjungannya, semoga menjadi kenyataan sesuai yang diinginkan.

Memilih SIM Rumah Sakit

Posted: Juni 4, 2009 by Admin Blog in Anak Simkes Angkatan 2008

Memilih Sebuah Sistem Informasi Manajemen (SIM) untuk diterapkan baik itu di Puskesmas, Rumah Sakit ataupun di mana saja, ibarat kita memilih atau mencari sebuah pasangan hidup. Hal ini dikarenakan SIM yang kita pilih dan kita pakai akan menjadi sahabat dan pembantu kita dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan sistem informasi.

Banyak vendor (jasa pihak ketiga) yang sudah menawarkan berbagai model SIM untuk Rumah Sakit, ada yang sederhana sampai yang komplit sekali, bahkan karena komplitnya ada menu-menu yang kadang tidak dibutuhkan oleh pihak pengguna (RS), kemudian dari yang harga murah sampai dengan yang harganya ratusan juta. Sehingga mungkin kita sebagai konsumen (pengguna) akan kebingungan, mana yang baik dan cocok buat Rumah Sakit tempat kita bekerja. Memang semuanya tergantung kemampuan kita terutama yang berhubungan dengan anggaran. Kalau bisa SIM yang kita pakai adalah yang murah dan sesuai dengan kebutuhan kita dalam mengelola sebuah sistem informasi.

Untuk itu kami mencoba menyusun fitur atau menu-menu yang wa jib ada pada sebuah SIM, yang bisa digunakan sebagai referensi bagi Rumah Sakit yang akan membeli dan menggunakan SIM. Menu-menu yang akan kami tulis di sini diambil dari beberapa sumber yang menawarkan SIM Rumah Sakit. Selengkapnya menu-menu tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Menu Pendaftaran Pasien, yang terdiri dari : Informasi produk dan layanan, Manajemen Pendaftaran Pasien Rawat Jalan, Manajemen Admisi Rawat Inap, Laporan Kunjungan Pasien.
  2. Pelayanan Rekam Medis, yang terdiri dari : Data base pasien, Pencatatan dan Info Register Penomoran, Info Sensus harian, Info Register, Pengolahan Statistik, Laporan Kinerja Rumah Sakit, Pengkodean, Master ICD-10.
  3. Menu Billing system, yang terdiri dari : Info Tagihan, Transaksi Pembayaran, Laporan Kas Harian Kasir,  Info Insentif Petugas Medik.
  4. Menu Pelayanan Rawat Jalan, yang terdiri dari : Info antrian pasien rawat jalan, Info riwayat medis pasien, Info dan Pencatatan diagnosis, Info dann Pencatatan tindakan oleh petugas medis, Info dan Pencatatan pasien yang memerlukan rawat inap, Info dan Pencatatan info pemeriksaan penunjang, Info dan Pencatatan rujukan/konsultasi, info diagnosis, Info pemakaian obat dan alat kesehatan di Poliklinik, Info permintaan logistik, Info unit pelayanan, Info ruang (Poli umum, poli bedah umum, poli obsgyn, poli penyakit dalam, poli mata, poli THT, poli anak, poli kulit dan kelamin, poli kesehatan jiwa, poli syaraf, poli gigi dan mulut, poli jantung, poli paru-paru, poli bedah syaraf, poli ortopedi).
  5. Menu Pelayanan IGD, yang terdiri dari : Info pasien masuk, Info riwayat medis pasien, Info dan pencatatan diagnosis pasien, Info dan pencatanan tindakan petugas medis, Info dan Pencatatan pasien yang memerlukan rawat inap, Info dan Pencatatan info pemeriksaan penunjang, Info dan Pencatatan rujukan/konsultasi, info diagnosis, Info pemakaian obat dan alat kesehatan di Poliklinik, Info permintaan logistik dan Info ruang rawat inap.
  6. Menu Pelayanan Rawat Inap, yang terdiri dari : Info pasien masuk, Info dokter yang merawat, info riwayat medis pasien, pencatatan progres note medis, info dan pencatatan tindakan medis, pencatatan daa penerimaan info pemeriksaan penunjang, info dan pencatatan discharge, info asal pasien, pasien pindah kelas/ruangan, Info pemakaian obat dan alat kesehatan di ranap, info unit pelayanan, info permintaan logistik, info ruang ranap.
  7. Menu Pelayanan Laboratorium, yang terdiri dari : Info pasien yang mendaftar, info jenis pemeriksaan, pencatatan hasil pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan, laporan pendapatan, laporan stok logistik, laporan dokter pemeriksa, info rujukan pemeriksaan laboratorium.
  8. Menu Pelayanan Farmasi, yang terdiri dari : Transaksi rawat jalan dan  rawat inap, transaki obat resep luar, transaksi obat karyawan, inventori, resep yang keluar per item obat, manajemen obat kedaluwarsa, pemesanan obat, pengaturan stok, distribusi obat, laporan penerimaan dan pengeluaran obat.
  9. Menu Pelayanan Radiologi, yang terdiri dari : Info pasien yang telah mendaftar, info jenis pemeriksaan (dari dokter), laporan dan pencetakan hasil pemeriksaan, laporan pendapatan, laporan stok logistik, laporan dokter pemeriksa, info rujukan pemeriksaan radiologi.
  10. Menu Pelayanan Gizi, yang terdiri dari : Info pasien yang telah masuk ruangan (bangsal), info  menu makanan pasien (jenis diet dan tarif kelas), laporan data konsumsi karyawan, laporan data pembelian bahan makanan dan keperluan dapur, info jadwal dan data konsultasi gizi.
  11. Menu Pelayanan Rehabilitasi Medis, yang terdiri dari : Info pasien, info jenis rehabilitasi medis yang dibutuhkan pasien, info jenis pelayanan medis dan tarif, pencatatan pelayanan rehabilitasi yang diberikan, info dan pencatatan hasil pelayanan rehabilitasi medis, info dan pencatatan biaya pelayanan rehabilitasi medik.
  12. Menu Pelayanan Bedah Sentral, yang terdiri dari : info pasien, info riwayat kesehatan pasien, pencatatan dan laporan tim bedah, info dan pencatatan kegiatan operasi/persalinan, info dan pencatatan pemakaian obat dan alkes di ruang operasi, info dan pencatatan pengiriman/pengembalian hasil pemeriksaan (lab, radiologi, fisioterapi, donor darah), info dan pencatatan permintaan logistik, info dan pencatatan penggunaan logistik.
  13. Menu Pelayanan Medical Check Up, yang terdiri dari : Info pasien, info paket MCU, info dan pencatatan cara bayar dan data pembayar (perusahaan), info dan pencatatan pemeriksaan penunjang, pencatatan pendapatan.
  14. Menu Pelayanan ICU/NICU/PICU (perawatan intensif), yang meliputi : Info pasien, Info riwayat medis pasien, Info dan Pencatatan kegiatan perawatan intensif ( ICU/NICU/PICU), Info dan Pencatatan pemakaian obat dan alkes,  Info dan Pencatatan pengiriman/pengembalian hasil pemeriksaan penunjang, Pencatatan asal pasien, pindah kelas/ruang, Pencatatan permintaan logistik ICU, Info pengiriman/pengembalian hasil pemeriksaan penunjang, Info asal pasien, Info persediaan/permintaan logistik ICU.
  15. Menu Pemeliharaan dan manajemen aset, yang meliputi : Info daftar aset rumah sakit, Pencatatan perhitungan penyusutan aset, Info pemeliharaan aset.
  16. Menu Logistik (obat/alkes/umum), yang meliputi : Info persediaan dan permintaan tiap pelayanan/unit, Info jumlah permintaan per item / per unit, Info harga pokok / harga jual, Inventaris barang (alkes/non medis), Pencatatan penerimaan dan penghapusan, Info penerimaan dan penghapusan, Info distribusi per ruang/unit, Pencatatan permintaan barang, Pencetakan tanda permintaan/penerimaan.
  17. Menu Pelayanan Keperawatan, yang meliputi : Info pasien, Info statistik (BOR, LOS, dsb), Info jadwal dinas perawat, Info kegiatan perawat per bulan.
  18. Menu Sistem Keuangan, yang meliputi : Penyusunan anggaran, Laporan realisasi anggaran, Info Hutang – Piutang, Info cashflow.
  19. Menu Kepegawaian, yang meliputi : Data pegawai, Absensi, Laporan kepegawaian, Info kinerja pegawai.
  20. Menu Pelayanan Penunjang Oncology, yang meliputi : kemoterapi, radioterapi.
  21. Menu Pelayanan Penunjang Fisioterapi, yang meliputi : Info pasien, Info jenis terapi (dari dokter), Mencatat hasil/progres terapi, Pencetakan hasil terapi, Info dan Laporan data kegiatan terapi, Laporan pendapatan, , Laporan dokter yang merawat, Info rujukan terapi.
  22. Menu Pelayanan CT Scan, yang meliputi : Info pasien, Info jenis pemeriksaan (dari dokter), Info dna pencatatan hasil pemeriksaan, Pencetakan hasil pemeriksaan, Laporan data kegiatan pemeriksaan, Laporan pendapatan, Laporan dokter yang merawat, Info rujukan pemeriksaan.
  23. Menu Pelayanan MRI, yang meliputi : Info pasien, Info jenis pemeriksaan (dari dokter), Laporan hasil pemeriksaan, Pencetakan hasil pemeriksaan, Laporan data kegiatan pemeriksaan, Laporan pendapatan, Laporan dokter yang merawat, Info rujukan pemeriksaan.
  24. Menu Info rujukan pemeriksaan, yang meliputi : Info pasien, Info jenis tindakan (dari dokter), Laporan  hasil tindakan, Pencetakan hasil tindakan, Laporan data kegiatan tindakan, Laporan pendapatan, Laporan dokter yang merawat, Info rujukan tindakan.
  25. Menu Administrator & User Manager, yang meliputi : Info aplikasi, Manajemen user dan scurity.
  26. Menu Informasi online, yang meliputi : Info pelayanan, info dokter jaga, info konsultasi.

Menu-menu di atas merupakan menu yang optimal untuk rumah sakit type B dan A, sedangkan untuk rumah sakit type D dan C menyesuaikan dengan pelayanan rujukan yang ada.

Sikda

Posted: Mei 13, 2009 by Admin Blog in Anak Simkes Angkatan 2008
Tag:

Pengelolaan dan Pengembangan SIKNAS dan

Fasilitasi Pengembangan SIKDA

Disusun oleh : Kelompok Non Reguler Simkes 2008

(Matakuliah : SIKDA)

Pengembangan Sistim Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) merupakan pengembangan sistem informasi kesehatan yang menyeluruh dan terintegrasi di setiap tingkat administrasi kesehatan, yang menghasilkan data/informasi akurat dan dapat menunjang terwujudnya Indonesia Sehat. Menurut PP 38/2007 hal tersebut diatur dalam pembagian urusan pemerintah di bidang kesehatan terutama pada Sub Bidang SIK. Penempatan Sub Bidang SIK dalam struktur organisasi tersebut dapat dijadikan patokan betapa pentingnnya SIK bagi penentuan pengambilan kebijakan. Pengembangan SIKNAS dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya dan infrastruktur.

SIKNAS bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari Sistem Kesehatan di Indonesia. Bagian dari SIKNAS terdiri dari sistem kesehatan pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Untuk fungsinya Sistem Informasi Kesehatan di tingkat Pusat merupakan bagian dari Sistem Kesehatan Nasional, di tingkat Provinsi merupakan bagian dari Sistem Kesehatan Provinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota merupakan bagian dari Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota. SIKNAS dibangun dari himpunan atau jaringan Sistem-sistem Informasi Kesehatan Provinsi dan Sistem Informasi Kesehatan Provinsi dibangun dari himpunan atau jaringan Sistem-sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/Kota. Di setiap tingkat, Sistem Informasi Kesehatan juga merupakan jaringan yang memiliki Pusat Jaringan dan Anggota-anggota Jaringan. Pembagian kewenangan antara pusat, propinsi dan kabupaten/kota dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Baca entri selengkapnya »

Penerapan sistem komputerisasi untuk prosedur rekam medis bertujuan untuk mengembangkan pelayanan informasi medis pasien yang otomatis sehingga meningkatkan manfaat penggunaan informasi untuk pelayanan pasien, statistik, penelitian dan pendidikan. Namun perlu diingat bahwa efektifitas dan efisiensi Unit Rekam Medis dengan sistem komputerisasi bisa dicapai hanya bila prosedur dasar yang manual sudah benar-benar siap serta berjalan dengan baik. Meskipun komputerisasi akan sangat membantu dalam pengelolaan pelayanan rekam medis, tetapi adanya pelayanan rekam medis secara manual yang simpel, efektif dan efisien tetap merupakan syarat wajib sebelum dilakukannya komputerisasi. Komputerisasi tidak untuk menyelesaikan semua masalah jika sistem manual-nya belum dibuat dan belum dilaksanakan secara baik.

Pengembangan dan penerapan sistem yang bagaimanapun membutuhkan perencanaan matang dan kerjasama yang baik diantara pihak-pihak yang terlibat. Misalnya untuk komputerisasi rekam medis ini yang terlibat adalah pihak unit rekam medis, pihak manajemen rumah sakit, staf medis, staf non medis serta orang-orang yang bergerak di bidang teknologi informasi.

Sebagaimana pengalaman beberapa rumah sakit yang telah menerapkan sistem komputerisasi, ada 5 tingkat otomasi dalam transisi ke sistem rekam kesehatan elektronik. Setiap tingkat dibangun setelah yang lain.

Tingkat pertama adalah rekam medis otomatis, yang tergantung pada masukan dari dokumen berbasis kertas dan berisi sistem administrasi dan sistem penunjang klinik seperti hasil laboratorium.

Yang kedua adalah komputerisasi catatan pasien (computerized patient record) yang dibuat dengan mengubah dokumen berupa kertas melalui sistem citra (imaging) dokumen. Pada tingkat ini struktur dasar sistem yang berbasis kertas telah berganti menjadi berbasis komputer.

Tingkat selanjutnya mengarah dari elektronik rekam medis ke elektronik catatan pasien (electronic patient record) dan tingkat terakhir adalah elektronik rekam kesehatan. Elektronik rekam kesehatan merupakan tujuan utama dalam pengembangan sistem informasi kesehatan yang di berbagai negara hingga saat ini masih belum sepenuhnya tercapai. Kebanyakan negara baru mencapai di dua tingkat pertama dan mereka masih terus berupaya merangkak ke tingkat berikutnya.
Baca entri selengkapnya »

Rekam medis dalam format elektronik saat ini bukan lagi menjadi masalah bagi kita di Indonesia, ada beberapa perundangan yang melegalkan hal ini terutama sejak disyahkannya UU ITE dan sudah banyak lembaga kesehatan yang menerapkan electronic medical record atau bahkan electronik health record. Jadi sudah sepantasnya pemerintah atau non-pemerintah yang concern tentang health record merumuskan masalah pertukaran data demi kebaikan pasien. Perlu dibentuk sebuah lembaga yang melaksanakan dan mengelola clearinghouse untuk pertukaran data rekam medis elektronik.

Alasan mengapa saya menganggap kebutuhan akan adanya  clearinghouse sebagai langkah selanjutnya karena melihat selama ini telah banyak daerah (kabupaten/kota) yang mengimplementasikan SIKDA/SIMPUS dengan data rekam medis elektronik yang diperoleh dari puskesmas kurang dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pasien, karena hanya dapat diakses dipuskesmas dimana pasien terdaftar atau bagus apabila SIMPUS yang diimplementasikan memungkinkan pertukaran data rekam medis elektronik antar puskesmas, akan tetapi data rekam medis dari kalangan swasta masih sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali.

Apabila clearinghouse untuk pertukaran data rekam medis elektronik masih berada diangan – angan, paling tidak para pengembang sistem informasi kesehatan yang mengelola data rekam medis / data rekam kesehatan dapat duduk bersama dan membuat sebuah framework dalam rangka pertukaran data rekam medis/kesehatan seperti Health Level 7 (HL7) atau Continuiety of Care Record (CCR) yang telah ada , sehingga apabila sebuah lembaga yang memiliki wewenang untuk mengelola data rekam medis telah dibentuk maka data yang selama ini telah ada dapat dengan mudah dimanfaatkan seluas – luasnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada pasien.

Mudah mudahan banyak yang memiliki pendapat yang sama dengan kami di SIMKES UGM angkatan 2008 sehingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat dapat lebih ditingkatkan.

Salam semua, hari ini saya menemukan artikel menarik tentang bagaimana menghindarkan USB Flashdisk anda dari virus, sangat sederhana dan saya yakin semua orang bisa melakukannya, artikel aslinya dapat dilihat disini.

Triknya adalah membuat flashdisk anda menjadi penuh dengan membuat file aspal (asli tapi palsu) sehingga flashdisk tidak akan bisa disisipi virus, lumrahnya virus akan menginfeksi file dan membuat ukuran file yang terinfeksi membengkak atau meng-copykan dirinya kedalam flashdisk anda dengan kata lain used space flashdisk anda akan membesar. Berikut langkah versi indonesianya ^_^

1. Tancapkan dulu flashdisk anda, ke komputer yang bebas virus

2. Buka aplikasi windows explorer

3. klik kanan drive flashdisk anda > properties, lalu lihat informasi mengenai sisa kapasitas flashdisk anda (mis. 1.159.610.368  jangan yang 1.07 GB)

4. Buka command prompt (Start Menu > Accessories atau di Start Menu > Run lalu ketik ‘cmd’)

5. ketik : fsutil file createnew F:\IamDummy 1159610368 ( F:\ -> tergantung drive flashdisk anda, trus 1159610368 sesuai free space flashdisk anda)

6. Selesai ^_^

Perintah no 5 akan membuat dummies file yang akan membuat flashdisk anda menjadi penuh, nah sekarang anda bisa colokin flashdisk anda sesuka hati dimana saja, kalau mau nambah file lagi tinggal hapus dummies filenya. Sederhana sekalikan ^_^.

-hari

<anggota gelap ^_^>

ps. buat admin, kalau tulisan ini tidak berkenan dihati silahkan dihapus saja .. cuma sekedar ingin share dari hasil googling.